Rindu Yang Terkoyak

Kupacu laju kendaraanku mencapai batas kecepatan maksimum, agar aku segera sampai ke kota asalku, kota kelahiranku yang panas. Begitu cuti yang kuajukan disetujui oleh atasanku dan setelah selesai serah terima pekerjaan, ku kemas barang-barang yang akan ku bawa selama cuti. Tak lupa ku periksa cincin berukirkan namaku dan nama kekasih pujaan hati. Cincin kedua yang akan kuberikan kepadanya. Jauh sebelum ini aku pernah membelikan cincin sebagai ikatan bahwa cintaku padanya sungguh-sungguh. Intan Permata Eka Putri Rahmadanti, itulah nama yang selama 5 tahun ini mengisi relung hatiku, seorang lelaki bernama Bramantyo Alexander Wibisono Zulkarnain. Anak ketiga dari 5 bersaudara yang semuanya wanita, sementara aku anak bungsu juga dai 5 bersaudara. Entah kenapa namanya memakai Eka yang artinya satu sementara dia anak ketiga.
Entahlah, itulah jawaban yang kuterima saat kutanya makna dari nama Eka yang tersemat kepadanya. Kebersamaan kami akan kuabadikan dalam sebuah mahligai pernikahan. Tak sabar rasa hati ini untuk segera bertemu setelah hampir 4 bulan tidak bersua. Meskipun sering ku dengar suara merdunya lewat komunikasi yang selalu terjalin melalu hand phone namun rasanya tak cukup menghilangkan dahaga kerinduanku kepadanya. Wajah manisnya selalu terbayang di pelupuk mataku. Ah betapa indahnya kala ku tatap matanya.
Selesai sholat subuh aku berangkat menempuh 13 jam perjalanan seorang diri. Jika tak ada aral melintang sekitar jam 19.00 wib aku akan sampai di kotaku. Esoknya aku berencana untuk menemui kekasihku dambaan hatiku, untuk membicarakan tanggal yang tepat kapan menghadap ke penghulu.
Dengan rasa hati yang bahagia aku sampai di rumah menjelang Isya. Ku cium tangan dan ku peluk ibuku sebagai bentuk hormatku kepada Beliau. Seorang ibu yang semakin banyak keriput dan semakin menua namun beliau seorang ibu yang sungguh luar biasa yang mampu membesarkan dan menyekolahkan kami anak-anaknya tanpa Ayahku disampingnya. Semenjak kepergian Ayahku ke haribaan Illahi, ibuku konsentrasi untuk membesarkan kami semua. Meski aku hanya lulus SMA namun aku mampu bersaing dalam kerasnya sebuah pekerjaan.
Puluhan pertanyaan meluncur dari bibir ibuku yang kujawab dengan senyuman agar tidak ada kekhawatiran lagi dihatinya. Saat makan malam datang kakakku yang pertama bersama istri dan kedua anaknya yang sudah menginjak masa remaja. Diraihnya tubuhku dalam pelukan eratnya. Lama aku dalam dekapannya sampai kurasakan ada yang menetes basah membasahi kepalaku. Ku angkat kepalaku dan kulihat air mata mengalir. Tak seperti biasanya sikap beliau seperti ini. Kupalingkan wajahku ke arah ibuku untuk mendapat jawaban. Namun ibuku hanya menunduk dan menangis. Aku benar-benar bingung.
"Bu ada apa..??" tanyaku.
"Tidak ada apa-apa nak." Jawab ibu.
Namun aku tau ada yang tidak beres dibalik semua tingkah laku mereka. Aku hanya diam dalam beribu pertanyaan tanpa jawab. Apakah yang sebenarnya terjadi. Dan jawaban segala pertanyaanku terjawab esok harinya.
Jam 10/00 wib aku pamit kepada ibuku untuk menjumpai Intan tak lupa kubawa cincin tanda cinta, namun ibuku berkata "Nak sebaiknya ditunda dulu ke rumahnya".
"Kenapa Bu, apa Ibu butuh bantuan Bram untuk melakukan sesuatu..??" tanyaku.
"Tidak nak, Ibu baik-baik saja. Kalau kau memang memaksa untuk kesana pergilah, tapi jika kau menemukan sesuatu ingatlah Ibu dan kakak-kakakmu." Jawab ibuku penuh dengan teka teki.
Dengan sedikit gelisah aku berangkat menuju rumah Intan kekasih hati dambaan kalbu.
Setelah 30 menit perjalanan tanpa hambatan sampailah aku ketempat tujuanku.
Ku ketuk dan kuucapkan salam. "Assalamualikum"
Lama aku menunggu tak terdengar jawaban. Setelah berulang kali kuucapkan salam barulah terdapat jawaban dari dalam rumah "Waalikum salam"
Seorang wanita membukakan pintu. Dialah ibunnya Intan. Kusalami beliau dan kutanyakan kabarnya, namun beliau hanya melongo dan menatapku terkejut seolah-olah melihat hantu.
Setelah lama terdiam beliau mempersilahkan aku masuk dan duduk, tak sabar segera kutanyakan Intan dimana.
"Dimana Intan Bu, sepertinya rumah lagi sepi" tanyaku.
Lama beliau tidak menjawab dan setelah kutanyakan sekali lagi dimana Intan, beliau menjawab dengan sedikit gugup.
"Intan pergi dengan suaminya" jawab ibu Intan.
Tiba-tiba telingaku seperti pekak dan tidak mendengar perkataan beliau, kutanyakan sekali lagi dimana Intan dan kali ini dengan tegas beliau menjawab.
"Intan pergi dengan suaminya Nak".
Seperti orang tolol aku keluar lagi jangan-jangan aku salah masuk rumah, ini bukan rumah Intan kekasihku tapi mungkin Intan yang lain. Aku masuk lagi dan bertanya kepada Ibunya Intan
"Bu benarkan ini rumahnya Intan...???" tannya
"Benar Nak Bram, dan Intan sedang pergi dengan suaminya" Lagi-lagi jawaban Pergi dengan suaminya yang kuterima.
Dalam kebingunganku aku bertanya "Bukankah Intan tunangan saya Bu, dan saya akan merencanakan untuk segera menikah, bagaimana mungkin dia pergi dengan suaminya, kapan menikahnya dan siapa suaminya..??" tanyaku.
"Betul Nak Bram, memang dulu Intan tunangan Nak Bram tapi dia memutuskan untuk menerima lamaran teman SMA nya dan menikah sebulan yang lalu". Jawabnya
Kalau ada petir menggelegar disampingku mungkin aku tidak akan sekaget itu. Kalau ada orang yang memukuli aku tanpa sebab mungkin aku tidak akan seemosi saat itu.
Emosiku memuncak dan ku tinju dinding papan rumahnya sampai retak, tak kuhiraukan sakit ditanganku, ingin rasanya kuledakkan rumah Intan saat itu juga. Ku tatap ibu Intan dengan kemarahan yang luar biasa, namun tiba-tiba aku teringat akan pesan Ibuku sewaktu pamit tadi. Ingatlah ibu Nak.
Emosiku sedikit mereda dan aku pergi meninggalkan rumah Intan tanpa berkata apa-apa lagi kepada Ibunya. Aku ditipu mentah-mentah oleh keluarga Intan.
Dijalan aku merenungi nasibku dan bertanya-tanya dalam hati apa salahku..?? Kenapa semua ini bisa menimpaku. Inikah balasan dari kesetiaanku selama ini, cintaku padanya yang mampu meredam keegoanku ternyata tidak ada harganya. Cincin tanda cinta kulempar ke jok belakang mobilku. Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba semua telah terjadi. Ketika berkomunikasipun canda tawa kami selalu ada tanpa ada tanda-tanda kalau dia sudah menikah.
Inilah jawaban dari sikap aneh Ibu dan Kakakku malam tadi. Jawaban yang sungguh-sungguh menghancurkan rasaku. Rasa cintaku, hatiku. Kupacu kendaraanku dengan kecepatan tinggi, tanpa perduli lagi.
Dering hand phone mengagetkanku dari lamunanku, kulihat dilayar hand phone tertera tulisan "My Heart". Memang di hand phoneku kutulis namanya seperti itu agar selalu mengingatkan aku bahwa ada seseorang yang selalu mengisi hatiku. Ku abaikan panggilan tersebut, namun sepertinya dering hand phone tak juga berhenti. Untuk apa dia menghubungi aku toh tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, semua sudah berakhir dengan kebohongan dan kepalsuan cintanya padaku. Dengan menahan amarah akhirnya kuangkat panggilan itu dan terdengar suara yang biasa mengisi gendang telingaku dengan suara-suara merdunya.
"Assalamualakum Mas" katanya.
"Waalaikum salam" jawabku dengan ketus dan amarah yang memenuhi rongga dada.
"Ada apa menghubungi aku, bukankah tidak ada lagi yang dibicarakan, dan tidak ada lagi yang harus dilakukan" kataku.
"Maafkan Intan Mas, Intan telah menodai cinta suci kita, menodai janji kita" katanya
"Halah kentut busuk" Jawabku berapi-api. Sesak dada ini rasanya.
Tak kudengar lagi dia berkata, namun jelas kudengar isak tangis. Ah tangis kepalsuan kataku dalam hati. Ku akhiri percakapan kami dan kembali aku tenggelam dalam kalutnya pikiranku. Asa dan harapan yang ku bangun untuk sebuah keindahan musnah sudah, hanya tersisa rasa sakit yang menusuk kalbu. HP ku kembali berdering namun kali ini nada SMS. Sebuah SMS masuk ke HP ku. Ku raih dan kubuka sambil tetap berkendara.
Dari Intan "Maafkan Intan Mas, Intan tidak sanggup bila harus berpisah dari Mas, Intan salah dan berdosa tidak memberikan kabar ataupun kata putus. Hanya satu jika boleh Intan meminta Mas, biarkan cincin yang dulu Mas berikan tetap berada di jari manis Intan, karena Intan tahu ada jiwa yang tetap menjaga Intan dalam cincin ini.
"BRAAAAAK"... Ku dengar suara keras luar dan mendadak disekelilingku gelap. Aku terbangun disebuah kamar yang sekelilingnya putih. Dimana aku..??? Kenapa aku tak dapat menggerakkan badanku..?? Sakit kurasakan disekujur tubuhku, selang infus mengalir ditanganku dan pernafasanku dibantu oleh oxigen. Ku buka mataku perlahan dan ku lihat wajah-wajah disekelilingku penuh air mata. Ibu dan kakak-kakakku. Rasa Syukur dan kelegaan terpancar diwajah mereka kala melihatku siuman. Kata Ibuku 4 hari aku terbaring tidak sadarkan diri, aku mengalami kecelakaan dan mobilku hancur. Namun anehnya aku tidak mengalami luka-luka. Hanya saja luka didalam hatiku lebih pedih dari luka akibat kecelakaan. Perlahan meskipun dengan kepala yang sangat sakit aku ingat kejadian yang menimpaku. Semua disebabkan oleh Rindu. Rindu Yang Terkoyak. Sampai kapan aku mampu memendam Dendam Rindu in.Entahlah.....

Comments